Blog

Merumahkan Cinta

Dapatkah kita, Merumahkan cinta. Lalu, meramu luka menjadi bahagia setelahnya ? -M-

Aku Setuju

Sebentuk senja di meja makan dan ampas ingatan yang meringkuk di bawah cangkir. Katamu, “Keindahan senja adalah caraku mengingat segala tingkah lakumu”– dan aku setuju. Dan senja ini, katamu. Puing – puing ingatan yang tersimpan… Read More »Aku Setuju

Kehilangan

/1/ Sebab kehilangan, kekasihku. Merupa wajah yang pucat, di guratannya terpenjara air mata yang harusnya mereda. /2/ Aku kira, lembut angin yang memeluk kesedihanku. Nyatanya, tubuhku menggigil tajam. Sebab kehilangan memang selalu menyakitkan. /3/ Kehilangan… Read More »Kehilangan

Puisiku Berdarah

Lihat, puisiku berdarah – darah karena mengingatmu. Sebelumnya, senyummu tak pernah selama ini di pikiranku. Dan namamu; sesuatu yang menyelamatkanku dari kesepian. Tapi, lebih sering menyakitkan melebihi kesepian itu sendiri, melebihi puisiku yang berdarah –… Read More »Puisiku Berdarah

Air Mata

/1/ Air mata tidak pernah mengenal usia, ia hanya mengenal apa yang terlahir setelahnya — dari ceruk mata tuannya. /2/ Dan air mata; adalah sementara yang mengekalkan. /3/ Seperti air mata. Puisi, adalah perasaan –… Read More »Air Mata

q

Tentang Wajah dan Matamu.

Dan fajar; adalah caraku meneguk sisa – sisa rembulan di wajahmu. Maka, benamkanlah rembulan di wajahmu. sebelum fajar tiba dan menggantimu dengan ufuknya. Sebab, tak ada yang kukagumi selain sinar rembulan yang jatuh telak di… Read More »Tentang Wajah dan Matamu.

q

Adalah Puisi…

“Adalah puisi, yang menyimpan segala kesedihannya dibalik tirai – tirai tirani.” – @mamanism Begitulah puisi, mengajarkanku betapa manusia butuh sebuah pelampiasan lewat kata – kata, manusia butuh sebuah wadah dalam mengekspresikan semua, dan itu semua… Read More »Adalah Puisi…