fbpx

Vanya (Tentang Janji) #3

Vanya (Tentang Janji) #3

Lanjutan Cerita dari : Vanya (Tentang Janji) #1 | Vanya (Tentang Janji) #2

Tak ada debar yang tak bergemuruh, saat dua insan saling merasakan jatuh cinta. Setidaknya itulah sesuatu yang pantas untuk dikenang bagi Vanya saat ini. Saat – saat dimana perayaan kembang api melemparkan letupan – letupan bahagia di udara. Sebelum, akhirnya ingatan yang lain berdatangan. Seperti gerombolan serigala memburu mangsanya yang terkapar di padang rerumputan.

Iya, kenangan buruk. Kenangan yang akan selalu hadir pada setiap insan yang berani untuk menjatuhkan hati pada orang lain. Tak terkecuali kepada mereka berdua. Kehidupan cinta yang dijalani lewat tameng jarak dan waktu yang berjauhan.

Vanya yang memang tinggal di daerah Malang dan Ardi yang berasal dari kota Jogja. Perjalanan cinta mereka berjalan sebagaimana mestinya, hingga akhirnya suatu saat, Vanya memergoki Ardi sedang menjalin hubungan lain dengan seseorang.

Seseorang yang entah datang dari kehidupan yang mana, seseorang yang membuat jarak di antara mereka berdua jadi semakin merenggang. Seseorang yang telah menyakit hati Vanya. Bukan seseorang, tapi dua orang. Iya, Ardi juga termasuk dalam daftar orang – orang yang pernah menyakiti hati Vanya.Apakah ada yang sesakit ini ? Saat hati yang mulai terbiasa dengan jarak dan waktu, dihadapkan pada sebuah pengkhianatan tentang orang yang sangat ingin dicintainya sepanjang hidupnya.

Mungkin ada yang lebih sakit. Tapi saat itu, betapa ada sebuah hati yang tercabik – cabik dan darahnya berceceran di lantai kayu. Betapa hancurnya sebuah perasaan perempuan saat mengerti lelakinya mulai berpaling dari hidupnya. Sakit. Sungguh sakit. Tak ada lagi di pikiran Vanya saat ini, selain ingatan tentang perselingkuhan itu dan rasa sakit yang dulu pernah menggerogoti rindu yang sudah tumbuh di hatinya.

Di dalam gerbong kereta itu Vanya hanya tertunduk dan tatapan matanya kosong. Hanya gemuruh ingatan masa lalu saja yang sedang asyik berputar di ingatannya.

Kereta telah tiba di kota Yogyakarta. Deru suara – suara manusia mulai menggema di seluruh gerbong kereta. Dan Vanya, hanya bergerak mengikuti langkah kakinya saja. Pikirannya tidak. Yang ada di pikirannya hanya satu.

Akankah Ardi mulai mengkhianatinya lagi ?.”

Vanya datang ke kota Jogja tanpa sepengetahuan Ardi. Ia datang hanya untuk menagih janji kesetiaan yang dulu pernah sama – sama terikrar di hati mereka masing – masing, juga dorongan dari sahabatnya.

Masih teringat jelas kata – kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.

“Kamu harusnya bisa meminta kepastian darinya, sebab kepastian memiliki nafas yang lebih panjang daripada sebuah penantian”.

Setelah keluar dari pintu stasiun Ngarsopuro, Yogyakarta. Vanya mencari sebuah taksi dan langsung menuju alamat kantor dimana Ardi bekerja. Tak butuh waktu lama untuk Vanya tiba di kantornya, 45 menit berselang ia sudah berdiri di depan pintu kantor Ardi.

Sekarang yang tersisa di antara mereka hanyalah sebuah pintu kantor dan ruang resepsionis saja. Sebelum akhirnya akan ada janji – janji yang harus dipertanggung jawabkan.

“Vanya… Apa yang kau lakukan disini ? Mengapa kau datang begitu tiba – tiba ? Kalau tahu kau kesini, aku kan bisa jemput kamu di stasiun.”

Vanya hanya terdiam, sama seperti dulu. Ia tak sanggup melihat mata Ardi begitu lama. Ia takut akan kembali jatuh pada lubang yang sama seperti dulu. Saat ia harus mempercayai bahwa Ardi tidak akan melakukannya lagi.

“Aku memang sengaja untuk tidak memberitahumu Ar. Oh iya jika ada waktu mungkin kita bisa bicara.”

“Oh, baiklah. Kebetulan sekarang waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan di luar saja.”

“Baiklah kalau begitu.”

Ardi mengapa kau selalu saja seperti ini, membuatku lupa akan semua masalah yang ada. Kau seakan tak pernah berhenti untuk memperhatikanku. Kau bahkan sering memberikan kejutan – kejutan tak terduga.

Dulu. Bahkan sekarang pun. Tapi sepertinya saat ini kejutan itu tak lagi manis seperti dulu.

Tak sampai 15 menit, mereka berdua tiba di sebuah kafe yang ada di sudut kota Jogja. Sebuah kafe yang sungguh sangat romantis jika untuk dihabiskan berdua dengan sang pasangan. Tapi, keadaan berbeda kali ini.

“Baiklah, Va. Apa yang ingin kau tanyakan padaku ? Apakah tentang sepucuk surat yang aku kirimkan kemarin ?”

Ah, mengapa kau selalu tahu apa yang aku pikirkan.

“Iya, Ar. Apakah benar kau akan meninggalkanku lagi seperti dulu ? Apakah kau berselingkuh lagi dariku ?”

Ardi mulai terdiam. Ia mengatur irama napas yang mulai tak beraturan di dalam dadanya. Ada yang harus ia katakan meski itu sangat menyakitkan, baik bagi dirinya maupun kekasihnya itu.

”Iya Va, a..ku selingkuh dengan teman kantorku di sini”

“Iya Ar, tapi mengapa kau ingin meninggalkanku ? Apakah aku tak cukup baik untukmu ?” Bulir air mata mulai menetes di pipi Vanya. Emosinya mulai meluap saat itu. Hingga sepasang tangan lebut Ardi mengusap kedua pipinya.

“Jangan kau menangis Va. Aku tak ingin melihat bulir air matamu untukku. Yang harus kamu tahu, Aku hanya ingin meninggalkanmu. Itu saja.”

“Lalu apa alasannya ? Apakah hanya “itu saja” menurutmu ?” Jika kamu tahu Ar, “itu saja” tidak cukup untuk mendeskripsikan sebuah kehilangan yang akan terjadi di depan mata. Tidak cukup Ar.

“Sudahlah Va, jangan kau tumpahkan air matamu disini. Aku hanya meminta agar kau mulai melupakanku. Itu saja.”

”Lagi – lagi kata itu saja yang keluar dari mulutmu Ar.”

“Baiklah Ar, jika memang itu maumu. Aku akan mulai melupakanmu dari sekarang.”

Kemudian Vanya, keluar dengan amarah yang tak lagi terbendung di dadanya, namun sebelum dirinya benar – benar keluar dari kafe Ardi mengatakan sesuatu kepada dirinya.

“Lupakanlah aku, Tapi aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, Va.”

Vanya kembali ke stasiun dengan perasaan yang sama seperti saat dia mulai memutuskan untuk berangkat ke Jogja. Perasaan yang gelap, bahkan tambah gelap saat ini. Tapi yang masih menyisakan tanya saat ini adalah kata – kata terakhir yang keluar dari mulut Ardi. Apa maksudnya anak itu, sudah jelas dia mengatakan jika dia selingkuh, tapi masih saja mengatakan kalau dia tidak mengingkari janjinya.

***

Sepucuk surat kembali tiba di rumah Vanya. Kali ini, bukan hanya satu surat, tapi setumpuk surat yang tersampul dalam sebuah dokumen coklat. Surat yang datangnya dari seseorang yang ia kenal sejak lama, sahabat dari mantan kekasihnya dulu, Ardi.

Ada apa ini? Mengapa ada surat yang datang setelah sekian lama ia membiarkan mantan kekasihnya itu menghilang atau mungkin dia yang ingin semua menghilang.

Ia baca surat – surat yang ada di tangannya saat ini satu – persatu. Ia baca dengan perlahan dan seksama. Tak ada lagi yang keluar setelah itu kecuali bulir air mata kesedihan yang bercampur jejak masa lalu. Ternyata pertanyaan yang selama ini selalu menggema tentang kata – kata terakhir dari kekasihnya atau mantan kekasihnya tersebut telah terjawab lewat surat yang datang pagi itu.

Surat yang lagi – lagi takkan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Kata terakhir sebelum akhirnya mereka berdua saling menangguhkan punggung dan membiarkannya berbicara pada kesendirian yang nyata. Yang ada setelah itu semua hanyalah rupa tanda tanya yang begitu besar. Masih teringat dalam benaknya, kata itu.

Lupakanlah aku, Tapi aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, Va.

Yang ada dibalik surat itu adalah sebuah pertanyaan yang kali ini telah memucat. Ardi, yang ada di pikiran Vanya saat ini telah mengkhianatinya sebanyak dua kali dan telah mengingkari janji – janji yang dulu pernah tercipta ternyata tidak seperti itu.

Ardi, yang ada di nomor satu dalam daftar orang yang pernah menyakiti hati Vanya, saat ini turun menjadi peringkat terbawah atau bahkan tidak ada dalam daftar sama sekali. Ardi ternyata memang sengaja meninggalkan Vanya tapi bukan dalam hal berselingkuh, bukan. Ternyata ia mengidap penyakit kanker tingkat stadium 4 dan saat pertemuan terakhir dengan Vanya kemarin, Ardi telah didiagnosa jika umurnya tak lama lagi dan ia akan segera dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama.

Dan menurut sahabatnya itu, Ardi memang sengaja tidak memberitahukan Vanya tentang ini semua sebab ia sangat – sangat mencintai Vanya. Ia tak ingin Vanya bersedih karena dirinya. Ia ingin Vanya bisa berbahagia dengan orang yang akan bisa menjaganya seumur hidupnya, bukan seperti dirinya yang sebentar lagi akan mati.

Bodoh, bodoh, bodoh. Seharusnya aku tidak meninggalkannya seperti ini jika aku tahu dia mengidap penyakit yang ganas.

Dan seharusnya aku percaya dengan kata hatiku saat itu, bukan dengan egoku.

Dan kamar 4 x 3m ini, lagi – lagi suasananya menjadi saksi bahwa memang sebuah janji yang suci tidak akan pernah mati.

Sebab cinta tak akan pernah berhenti melindungi dan menjaganya.

(THE END)

Share this post

Comments (2)

  • BrianToina Reply

    Fantastic Site, Keep up the excellent job. Thanks a ton!

    April 2, 2020 at 8:03 pm
  • Jamesplorn Reply

    Your tips is incredibly important.

    April 29, 2020 at 11:00 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *