Vanya (Tentang Janji) #2

q

Lanjutan Cerita dari : Vanya (Tentang Janji) #1

————————————————————————————————————
Sepucuk surat tiba di rumah Vanya pagi itu. Surat yang harusnya berisi tentang sepotong cerita seorang kekasih yang ada nun jauh di sana. Tapi, tidak kali ini. Surat itu, berbeda dan sangat berbeda. Surat itu tak lagi sama. Kertas putih di tangannya saat ini adalah apa yang tak ingin dia lihat. Tak ada lagi yang tiba setelahnya kecuali sesenggukan kecil dari dada yang ringkih dan tatapan mata yang mulai sembab oleh bulir air mata.

Mengapa dia melakukan ini, apa yang salah dengannya, bukankah kemarin dia sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku.
Langit – langit kamar yang dia rias seperti kota paris dengan stiker – stiker besar menempel pada dindingnya, kini tak lagi menyiratkan warna bahagia. Ia ikut larut dalam kesedihan yang saat ini dirasakan oleh tuannya. Lampu kamar yang dilingkari dengan tumbuhan rambat palsu yang kubeli dari sebuah toko aksesoris di pusat kota, kini tak lagi tersenyum lewat kesejukannya. Seakan – akan daun kecil yang menempel pada batangnya runtuh seketika.
Dibacanya lagi surat yang dia terima pagi itu.
 
Mohon maaf Va, sepertinya kita tidak bisa bersama lagi. Aku sudah memilih jalan hidupku sendiri. Aku mohon , tolong lupakan aku !! Aku yakin kamu bisa mencari yang lebih baik dariku.”
Semakin tak kuat Vanya menahan gemuruh yang sejak tadi menggelegar di dada Vanya. Air matanya tumpah menimpa kedua pipinya yang lembut, kemudian jatuh ke kemeja kantor yang dia pakai saat itu. Basah dan bercereran, seperti ribuan kepingan hati yang dulu juga pernah berantakan. Direbahkannya tubuh yang saat itu sedang diam tak bergeming. Matanya menatap kosong pada langit – langit dan lampu kamar dengan ornamen tumbuhan rambat itu. Dibiarkan pikirannya tenang dengan sendirinya, meski ia tahu gemuruh itu tetap setia bersemayam dalam dadanya. Memang tak ada sakit hati yang akan hilang tak membekas, ia seperti bekas luka tajam yang melekat dan membentuk sebuah tanda berbekas.
***
2 Tahun yang lalu
Langit tampak sedang ceria saat itu, di bawah sinar rembulan yang terang benderang dan bianglala besar di tengah alun – alun yang seakan berputar dengan lambatnya. Banyak pasangan yang menikmati permainan besar di tengah taman kota tersebut, tepatnya kota Batu. Tapi, tidak selambat dua orang pemuda dan pemudi yang sedang asik menikmati pemandangan dari atas bianglala. Mereka sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri, dunia kebahagiaan yang saat itu sedang mereka nikmati. Tanpa pernah mereka sadari akan ada sesuatu yang lebih besar dibalik itu semua.
Vanya dan Ardi, tampaknya mereka sangat menikmati pemandangan yang terlihat dari atas bianglala. Gunung – gunung yang melingkari kota Malang dengan kawanan lampu – lampu yang terpancar indah dari setiap rumah. Dingin hawa yang menusuk tulang pun, tak mampu mengalahkan kehangatan yang mereka berdua rasakan saat itu. Sesaat bianglala itu diam, dan mereka tepat berada di puncaknya. Mereka berdua pun terdiam, pandangan mata mereka saling bertemu. Kemudian ada kehangatan yang mengalir dalam tubuh mereka. Dua bibir mungil itu saling berpagutan, mengalahkan setiap hawa dingin yang tiba pada tengkuk mereka. Tak ada yang sadar apa yang terjadi saat itu, sampai akhirnya permainan besar itu kembali berputar dan mereka saling melepaskan ciumannya.
Maafkan aku Va, aku tidak bermaksud untuk…”
Gak Ar, seharusnya aku yang minta maaf. Seharusnya aku tidak membiarkan kau melakukannya. Maafkan aku..”
Sejenak suasana pun menjadi sunyi. Sunyi sekali. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mereka setelah itu. Sampai akhirnya Ardi mulai mengutarakan sesuatu.
Maaf Va, tapi aku hanya ingin kau tahu. Semenjak kita bertemu di kafe itu aku sudah merasakan debar yang sangat terhadapmu.”
Maksud kamu ?”
AKU MENCINTAIMU VA, bolehkah aku menjadikanmu sebagai yang tak pernah berakhir dalam hidupku ? Sebagai tali temali senja yang menjadi tanda peralihan siang kepada malam ? Bolehkah aku menjadikanmu untuk yang terakhir dan selamanya ?“
Vanya hanya tertunduk dan tak berani menatap mata Ardi, sebab sejak pertemuan mereka di kafe itu. Tatapan mata Ardi adalah satu – satunya alasan bagi dadanya yang juga berdebar kencang saat itu.
Tapi Ar, aku tidak bisa….” Vanya menghentikan kata – katanya.
Baiklah Va, aku tidak bisa memaksamu. Yang penting aku sudah mengutarakan perasaanku padamu. Itu saja sudah cukup bagiku.”
Bukan Ar, bukan itu maksudku… Aku tidak bisa untuk menolakmu. Sebab yang aku tahu, dadaku juga berdebar kencang saat itu.” Vanya kembali terdiam.
Jadi… Kau menerimaku ?” Tanya Ardi dengan perasaan yang bercampur antara kaget dan juga senang.
Vanya hanya mengangguk. Lalu, kemudian mereka saling berpelukan dan tiba – tiba bianglala pun berhenti. Mereka keluar dengan perasaan yang bahagia, sama seperti pasangan lain yang sudah keluar terlebih dahulu mendahului mereka. Malam itu; malam yang tak akan pernah dilupakan bagi dua orang pemuda yang saling jatuh cinta. Malam yang benderang. Malam cahaya yang berpesta di atas ingatan.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *