Beberapa Pikiran Yang Tinggal di Lautan. | Mamanism
38
post-template-default,single,single-post,postid-38,single-format-standard,bridge-core-1.0.4,ajax_fade,page_not_loaded,,vertical_menu_enabled,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-18.0.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.5,vc_responsive

Beberapa Pikiran Yang Tinggal di Lautan.

Kali ini, aku ingin membawamu ke lautan.

Berdiri di tepi pantai, 
dengan pasir – pasir yang berbisik di sekeliling kakimu.
“Kau tahu, apa yang sering dibisikkan oleh pasir di lautan ?”
Aku adalah sebutir pasir kecil yang sangat kuat.
Kau tahu, mengapa pasir itu menyebut dirinya kuat ?
Sebab kemanapun lautan membawanya pergi.
Ia akan tiba sebagai pasir kembali.
Tak ada yang bisa mengubahnya.
Bahkan lautan hanya memindahkannya beberapa jengkal saja.
Kemudian, setelah puas kita berdiri di pantai.
Aku ingin mengajakmu mengarungi lautan yang dalam itu.
Ku genggam tanganmu perlahan.
Ku naikkan kau ke kapal yang baru saja aku rayu pemiliknya,
agar mau mengantarkan kita ke tengah lautan.
Sesampainya di tengah,
aku biarkan kau menikmati segala keindahan lautan nan elok ini.
Dan membiarkan aku menikmati wajahmu
Lewat pantulan cahaya senja.

Begitu arif Tuhan menciptakan manusia.
Kau; mahluk Tuhan yang agung.
Bibirmu yang mungil dan hidung mancungmu yang tak terlalu mancung.
Ahhhh… Aku terjatuh pada keindahanmu.
Beberapa saat kemudian, aku mulai membuka pertanyaan.
“Kau tahu, apa yang ada di bawah lautan ini ?”
Tak ada kata yang keluar dari mulutmu.
Hanya diam. diam. dan diam.
Lalu, katamu.
“Yang jelas ada ikan – ikan dan terumbu karang di dalamnya.”
Hmmm… Mungkin kau perlu menyelam lebih dalam, C.
Sebab di dalam lautan tak hanya tersedia ikan – ikan dan terumbu karang.
Sebab masing – masing mereka bahkan mempunyai nama.
Dan pikiranmu, tak akan sanggup untuk merapal segala yang ada di dalam lautan.
Kecuali, kau mau untuk menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi.
Lalu berkenalan satu sama lain.
Seperti itulah pikiran, C.
Kadang apa yang kita pikirkan 
belum tentu sama dengan apa yang sedang orang lain rasakan.
Jadi, jangan terlalu cepat mengambil beberapa kesimpulan–yang mungkin akan merugikan bagi diri sendiri.
Cobalah untuk tetap tenang dan memikirkan segala.
Sebab kemenangan yang hakiki tak akan datang dengan pikiran yang kalut.

1 Comment
  • Backstreets Of Hickory
    Posted at 11:33h, 26 July Reply

    I would like to thank you for the efforts you have put in penning this blog.

    I really hope to see the same high-grade blog posts by you in the future as well.

    In truth, your creative writing abilities has inspired me to get my own, personal site now 😉

Post A Comment