Surat Pertemuan | Mamanism
40
post-template-default,single,single-post,postid-40,single-format-standard,bridge-core-1.0.4,ajax_fade,page_not_loaded,,vertical_menu_enabled,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-18.0.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.5,vc_responsive

Surat Pertemuan

Waktu kita tak pernah habis, nona.
Sebab aku tak pernah pergi. Di pelupuk matamu, aku berdiam diri.

Mula – mula kau datang lewat kelopak senja,
Susah payah aku menangkapmu lewat mataku.
Ketika hari mulai gelap, kau api yang menerangi
lewat senyum juga bias bintang di wajahmu–aku jatuh hati.
Lewat pertemuan selanjutnya.
Aku datang dengan senyum yang lebar.
Di pangkuanmu, aku pernah melingkarkan debar.
Musim semi yang lain tiba.
Kini, kita saling berjauhan.
Bahkan senja pun
Kadang hanya bus – bus kota yang berkeliaran saat jam kantor tiba.
Debar semakin merenggang.
Musim semi terakhir di negeri seberang.
Aku kembali.
Kembali ke tempat dimana senja musim semi mulai kudapat.
Sebab aku tak pernah pergi. Di pelupuk matamu, aku berdiam diri.
No Comments

Post A Comment