Di Kota ini, kemarau tiba lebih lama. | Mamanism
43
post-template-default,single,single-post,postid-43,single-format-standard,bridge-core-1.0.4,ajax_fade,page_not_loaded,,vertical_menu_enabled,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-18.0.9,qode-theme-bridge,disabled_footer_top,disabled_footer_bottom,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.0.5,vc_responsive

Di Kota ini, kemarau tiba lebih lama.

Di kota ini.
Tentu saja pernah ada harum wangi dari tubuhmu.

Aku menyambutmu dengan ramah,
di depan pintu stasiun.
Kau tersenyum.
Hatiku, berguguran karenanya.

Di kota ini.
Musim semi tiba di bulan januari.

Seperti sepasang merpati
Kita,
berjalan berdampingan
Meski rasa canggung
Masih menyelimuti pikiran masing – masing.

Di kota ini.
Musim semi yang hangat masih tersisa.

Tepat di bulan maret
Aku tiba di kotamu.
Pedestrian sedang padat dengan kebahagiaan
Begitu pula kita.

Kali ini kau tak malu – malu lagi.
Pundakku kau gunakan sebagai sandaran.

Kita,
berjalan berdampingan
Dengan rasa canggung yang hilang sudah.

Di kota ini.
Musim panas akan segera tiba.

Tepat sebelum rindu – rindu datang bersamaan
dan meminta pertanggung jawaban dariku.

Kita,
tak lagi berjalan berdampingan
Tapi, musim semi yang hangat
Masih setia di kepala masing – masing.

Aku rasa kemarau akan tiba lebih lama–di kota ini.
Sebab di dada masing – masing.
Cinta lebih abadi daripada musim – musim.

*
ps: untuk @prtwhp, di musim semi yang akan datang. Aku akan tiba di kotamu lebih cepat. Agar rindu tak lagi sekarat menunggu musim – musim yang sering berlalu.
No Comments

Post A Comment