Gadis Lavender

Kamu tahu bunga Lavender, bukan ? Iya, bunga yang aroma dan bentuknya indah bak surga dunia yang diturunkan ke bumi. Bunga yang aromanya sering dipakai untuk pengusir nyamuk juga sebagai bahan – bahan kimia lainnya. Ah.. aroma inilah, aroma bunga lavender, aroma yang dapat membuat ingatanku seakan tak sanggup menahan air mata yang tumpah lewat ceruk mataku.

***

Kali ini langit mungkin sedang tak bersahabat, tapi lihatlah di matanya masih ada sisa – sisa kebahagiaan yang bersemayam. Iya, gadis itu. Gadis yang sering kutemui di bawah sinar mentari. Tepat pada pukul 7 pagi. Di sebuah jalan yang mulai lusuh dan badannya yang kusut dan kucel. Mungkin karena debu – debu yang menyeruak, melewatinya dengan kejam dan menghuni pori – pori kulitnya yang tipis.

Gadis itu. Gadis yang kuketahui namanya adalah Aninda. Hmm.. nama yang cantik. Gumamku. Ternyata ia cukup jauh meninggalkan rumahnya hanya untuk sekedar menjual bunga lavender dan menjajakannya pada setiap orang yang melewati pedestrian tersebut. Sudah lama dia menjajajakan dagangannya. Katanya, sekitar 2 tahun. Duduk di bangku kecil ditemani payung yang cukup besar hingga tubuhnya yang mungil itu dapat terlindungi dari sengat matahari yang kejam.

“Halo, adik kecil…” sapaku.

Ia sedikit terkejut, kemudian menyapaku dengan senyum mungilnya. “Ah, iya.. halo kakak.. mau berangkat ke kantor ya ?”

“Iya, biasalah.. bagaimana daganganmu hari ini ?” Kusunggingkan senyumku untuknya agar jika memang tak laku, ia bisa bisa sedikit terhibur dengan senyumanku. Kuharap.

“Lumayan kak..”

Begitulah percakapanku setiap paginya dengan gadis kecil itu. Sebenarnya dia tidak terlalu kecil sih, bisa dibilang dia adalah gadis remaja tapi aku lebih senang memanggilnya gadis kecil. Kebetulan kantorku tak jauh dari tempat kost yang aku huni sekarang. Jadi aku menempuhnya dengan jalan kaki. Dan biasanya, ketika istirahat aku sempatkan untuk sekadar menyapanya kembali sembari membelikannya sebungkus makan siang untuknya. Kemudian aku kembali ke kantorku. Tak lupa pula kadang kutawarkan kepada teman – teman kantor agar mereka sudi untuk mampir di kedai kecil miliknya, begitulah aku menyebut tempat dagang gadis kecil itu.

***

Sudah 1 minggu ini, aku merasakan kehampaan yang begitu luar biasa. Iya, hampa sekali sampai pori – pori tubuhku ini kadang tak dapat merasakan panas mentari yang menyengat siang itu.

Kemana gadis itu ya? Sudah lama ia tak kelihatan. Aku rindu akan senyum mungilnya itu. Tapi kemanakah ia selama ini ?. Aku melenguh sendirian di taman dekat gadis kecil itu sering menjajakan dagangannya. Sering kulemparkan tanya pada orang – orang di sekitar tempat itu, namun tak satupun yang mengetahui keberadaannya. Ah gadis kecil itu, aku takut ada apa – apa dengannya. Lagi – lagi aku mencemaskan keadaannya. Kuharap ia baik – baik saja. Iya, hanya itu yang bisa kuharapkan dari kecemasanku terhadapnya.

***

Pagi ini, entah mengapa aku bangun dengan kepala yang pening. Di langit ingatanku ada berbagai masalah yang mencerca setiap sudut otakku. Bukan, bukan gadis itu lagi yang kumaksud. Tapi lebih kepada masalah kantor juga masalah finansial yang memang harus kutanggung sendiri semenjak aku memutuskan untuk bekerja jauh dari kampung halamanku. Sudah hampir setengah tahun aku hidup di kota ini, kota yang katanya disebut kota seribu pura. Iya, benar. Pulau Bali, pulau dimana banyak kebudayaan dan pura – pura yang berdiri megah di sini.

Bagaimana ini, cicilan sepeda motor belum terbayarkan sedangkan uang gajianku sudah habis untuk keperluan yang lain. Belum lagi uang tunggakan kost yang masih terbengkalai. Tukas pikiranku yang sedang bergelut dengan segala hingar – bingar masalah duniawi ini. Untung saja, aku punya tetangga yang baik hati, yang mau membantu di saat yang lain susah, termasuk diriku ini. Kebutuhan hidupku sedikit terbantu karena mereka. Uangku habis bukan karena aku berfoya – foya di tempat yang penuh dengan tempat yang katanya surga dunia. Uangku habis karena untuk pembiayaan rumah sakit untuk adikku, tapi untungnya dia sudah sembuh sekarang.

Tak apalah, toh Tuhan tak akan memberikan masalah yang tak bisa diselesaikan oleh umatnya sendiri.
Kulangkahkan kedua kakiku menuju kantor tempat selama ini aku bekerja. Sudah kuhilangkan kecemasanku tentang gadis kecil itu sejak 3 tahun yang lalu. Aku hanya sanggup mendoakannya saja lewat harapan – harapan. Semoga ia bisa lebih bahagia di tempatnya kini berada. Bukan. Bukan meninggal maksudku, tapi di tempat yang sedang ia tempati sekarang. Meskipun aku tahu di mana pastinya dia berada sekarang.

Hari itu, entah mengapa aku tiba – tiba saja ingin mengunjungi tempat mungil itu yang sekarang hanya menyisakan sisa – sisa aroma lavender yang mengendap di ingatanku, juga wajah tirus dan senyum mungilnya yang lucu itu. Tepat jam 12 siang, aku langkahkan kedua kakiku menuju salah satu toko kecil di seberang taman. Kubeli sebuah roti dan minuman dingin disana. Kemudian kembali aku menyebrangi zebra cross yang ada di seberang dan kutempatkan tubuhku di sebuah bangku taman biasa aku menemaninya saat makan siang dulu. Sejenak aku dapat melupakan beberapa masalah yang sedang membelit kehidupanku. Kembali langit ingatanku meracau masa – masa dimana aku biasa bercengkrama dengannya saat istirahat. Tangannya yang kecil, digunakannya untuk mengambil seikat bunga lavender untuk pembeli. Lalu, wajahnya yang tirus dan tersenyum kecil saat aku mulai menceritakan beberapa cerita lucu kepadanya atau hanya sekedar joke – joke sederhana yang aku sampaikan.

Langit ingatanku terus berputar. Seakan di memoriku film – film tentang gadis itu tak habis ditelan oleh waktu. Memoria tentangnya terus berputar, hingga akhirnya entah sadar atau tidak aku seperti melihat wajahnya dari kejauhan. Namun, kali ini beda tubuhnya tak lagi seperti dulu sepertinya ia sudah tumbuh dewasa. Ah, tidak mungkin ini hanyalah khayalanku saja. Wanita itu terus berjalan mendekati arahku dan tubuhku tetap menatapnya dari kejauhan. Lalu, di saat mulai dekat ia tersenyum manis kepadaku. Senyum ini, senyum yang sama seperti 4 tahun lalu. Aku membalasnya, lalu ia perlahan menghampiriku. Tubuhnya yang anggun dilemparkannya secara perlahan ke bangku taman yang aku duduki saat itu.

“Masih ingat aku tidak, kak?” Tukasnya.

“Emm.. siapa ya ?” Aku masih ragu untuk menebak jika ia adalah gadis remaja yang sering aku temani dulu.

“Aku, Aku gadis yang sering kau temani mengobrol di saat siang seperti ini. Aku Aninda kak..” ia menimpali pertanyaanku seraya senyum manisnya mengembang dihadapanku lagi.

“Benarkah ? Benarkah kamu Aninda, gadis lugu yang sering aku goda itu ?” Aku mwnjawab dengan sedikit kaget, karena ia memang tak sama seperti dulu, seperti saat aku menemaninya dulu.

Iya, tertawa kecil. “Ah.. kakak, aku sekarang sudah dewasa jadi pantas beda, jadi bagaimana kabarmu sekarang ?”.

“Syukur, aku baik – baik saja. Meski saat kau tinggalkan ragaku sedikit berceceran di tempat ini”. Aku menjawabnya seraya menggoda dia seperti yang dulu sering kulakukan. Lalu kemudian kami tertawa bersama setelahnya.

Semenjak pertemuan itu, kami sering sekali bertatap muka. Bahkan bukan hanya untuk sekedar mengobrol saja. Iya, kami sudah pacaran dan bersiap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi. Dan, masalah keuanganku dulu, kini sudah tak perlu dipermasalahkan lagi sebab ternyata ia diangkat menjadi anak oleh seorang pengusaha kaya di kota ini dan aku sekarang pun bekerja di kantor tempat ayahnya dia.

***

Memang pada akhirnya, tak ada kebaikan sekecil apapun yang tak akan mendapatkan balasan. Dan aku bersyukur untuk bertemu dengannya sekali lagi dan selamanya.

1 thought on “Gadis Lavender”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *