Tentang Doa, Rindu, dan Tatapan mata.

Saat malam menghardik rindu pada setiap cabikannya dan menyisakan lamun yang berujung mendera.
Malam yang lengang.
Dimana doa – doa pada semesta bergerak secara perlahan.
Merapalkan setiap helai namamu dalam ingatan.
Menempatkannya pada tahta semesta paling indah di lautan kebahagiaan.
Andai saja kamu tahu, panjatan doa malamku pada semesta bukanlah pilihan.
Namun sebuah kesadaran.
Kesadaran untuk dapat membahagiakanmu lebih dari seribu lampion yang dapat membuatmu tersenyum.
Andai saja kamu tahu,
Hadirmu selalu merupa bintang pada langit malam.
Menenangkan bagi setiap pelupuk mata yang ingin terpejam.
Masih berkisar tentangmu.
Sang lebah penghasil madu yg mengantarkanku menuju semanis-manisnya rindu.
Bersamamu, rindu tak perlu lagi gelisah dalam menghabiskan waktu.
Sebab pada setiap aksara yang kuciptakan, ada sebentuk rindu yang tak lupa kusematkan.
Hingga akhirnya aku mengerti.
Dalam mencintaimu aku belajar bagaimana cara menangguhkan panggung kesepianku.
Tentang sebuah rindu dalam tatapan mata.
Ada harapan yang sedang meminta untuk segera diperindah oleh masa.
Agar cinta tak perlu lagi terkapar dalam mengembara.
Agar resah tak selalu menjadi nestapa.
Sebab, pada pundakmu aku bisa merebahkan resah dengan tanpa memedulikan masa.
Dan Malam ini…
Aroma nafas tubuhmu masih menjelma padang – padang puisi.
Terselip diantara lipatan selimut bulan yang sunyi; dengan sisa ampas secangkir kopi.
Hingga akhirnya aku sadar.
Kita tidak sekedar berpandangan lagi, sekarang kita mulai bercerita lewat tatapan mata.

2 thoughts on “Tentang Doa, Rindu, dan Tatapan mata.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *