Senja dan Fatamorgana

Aku sedang merindukan pembicaraan sederhana di bawah sinar senja.
Dengan lengan yang saling bertautan dan harap yang merupa keindahan.
Di sana, di pelupuk mata senja.
Ada segenggam keluh kesah yang menjelma harapan.
Iya, Harapan !!!
Dan kali ini aku tak pernah berhenti.
Memperbincangkan jarak serta senja yang saling bergenggaman.
Melipat setiap denting waktu di pinggir belati.
Mengukir prasasti dalam lembayung hati yang berserakan.
Bak mentari yang tersapu angin fatamorgana.
Iya, Fatamorgana !!!
Fatamorgana merah jingga di balik cahaya senja.
Yang mengisi setiap kehampaan pada rongga dada.
Merajutnya pada lembaran kertas berwarna merah tua.
Berisi tentang aksara – aksara penasbih jiwa.
Dan mengalunkan pinta berupa cinta – cinta di angkasa.
Ooo… Kasih…
Kemarilah beri aku sedikit pelukan.
Agar rindu ini terkikis dan tumbuh lagi saat kita berjauhan.
Karena pada setiap kilometer yang menjelma waktu.
Ada langit yang lapisannya berisi kepulan rindu.
Dan di senyuman pertamamu. 
Aku menikmati rindu yang tak lagi mengenal waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *