Cinta Tak Pernah Tersesat

Kamu tahu apa yang lebih kejam dari sebuah pembunuhan ?
Pengabaianmu secara diam – diam.
Katamu “Kau tersadar atau masih tenang tertidur?”.
Padahal setiap detak jantungku.
Mengembara untuk segera menemukanmu.
Entah luka yang membenamkan atau perih yang menyayat kulit nadi.
Sejak punggungmu menjauh, harap – harap menjadi sunyi.
Tak ada lagi keriuhan pun dentang mimpi.
Hanya butiran salju yang menjelma elegi.
Pengabaianmu adalah pilu yang pernah aku jejaki.
Bersama irisan belati yang pernah aku tangisi.
Disana, di darah yang mengalir.
Masih tersimpan bekas – bekas air mata yang sepi.
Kini, aku termangu di sebuah kursi lapuk beralaskan salju.
Hanya sekedar percaya akan hadirnya kepedulian darimu; lagi.
Meja tua yang menemaniku sejak musim semi itu.
Kering, bahkan mungkin akan lumpuh dan patah beberapa jam lagi.
Tapi, tenang. Hatiku tak akan serapuh itu.
Ia tetap setia dalam pilu.
Memintal rindu yang sudah menjadi abu.
Merajutnya kembali menjadi gaun bermahkota salju.
Hari ini, kita sama – sama saling mengabaikan.
Membiarkan punggung saling berjauhan.
Bahkan, tanpa sebuah pandangan.
Tapi Kasih, harusnya kamu tahu…
Cinta tak pernah tersesat, ia hanya sedang menjauh atau sedang berjalan lambat ke arahmu.

2 thoughts on “Cinta Tak Pernah Tersesat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *