Gengsi Dan Rindu Ini.

“Sayang, aku mau ngomong sesuatu”. Aku membuka pembicaraan.

“Iya mas, ada apa ?” jawabnya.

“Emm..gak ada apa – apa sayang, cuma aku ingin…. emm..” Kata – kataku sempat tersendat.

“Iya mas..ada apa ?” tanyanya lagi.

“Emm.. gini.. sepertinya aku ingin kita break dulu ya, bukan karena apa – apa tapi karena aku pingin kita sama – sama mengintrospeksi diri kita sendiri saja, udah gitu aja”. aku pun melanjutkan kata – kataku tadi.

“Tapi… kenapa mas ?? apakah aku telah melakukan kesalahan sama mas ??”. dia kembali bertanya sembari menundukkan kepalanya secara perlahan.

“Gak, Fey.. aku masih sayang kamu koq, tapi aku cuma ingin fokus dulu sama kerjaanku sekarang, sebab banyak tugas yang harus selesai sesuai deadline dari kantor.”

“Tapi Mas………….”.

Sudah dua minggu semenjak pembicaraan tentang break tadi mengakhiri pertemuan rutin kita yang biasanya kita bisa bertemu 3x dalam semingu, tapi dua minggu ini aku sudah jarang sekali menghubungi dia. Yah, itu adalah keputusanku, namun itu semua tak luput dari karena aku hanya ingin hubungan yang sudah terjalin ini bisa lebih baik ke depannya.
Dia adalah gadis berkulit putih, tidak terlalu tinggi mungkin sekitar 163 cm, tapi dia manis dan juga chubby. Dia mempunyai hati yang putih sama seperti kulitnya, dia baik dan juga sopan terhadap semua orang, nama dia adalah “Fey” begitu aku memanggilnya.
Mungkin keputusan untuk break ini bisa salah atau benar, tapi entahlah mengapa aku bisa mengucapkannya padahal aku sangat sayang padanya, bahkan rasa sayang matahari kepada bumi pun kalah akan rasa sayangku padanya.
Hari ini, semuanya seakan menjadi hambar, sebab perasaanku seakan dipenuhi perasaan resah dan was – was padanya. Dia lagi ngapain ya skrg ? Dia masih ingat aku gak ya ? atau jangan – jangan dia masih marah padaku karena ucapanku dua minggu lalu ?. Pertanyaan demi pertanyaan datang menghampiri seakan tiada habisnya. Aku merasa takut sendiri saat ingin menghubunginya, sebab aku pun merasa bersalah karena sudah membuatnya menderita karena perkataanku kemarin.
Selama dua minggu ini aku bahkan tak sanggup untuk mengirimkan satu sms pun kepadanya, aku terlalu naif,aku rindu tapi tak bisa aku ucapkan, mungkin ini yang dinamakan gengsi. Aku tak kuasa menahan kegengsian ini, sampai akhirnya aku harus mengalah demi gengsi yang sudah tercipta dalam diriku.Gengsi ini sudah menciptakan jarak yang beribu – ribu mil jauhnya antara diriku dan dirinya padahal jika aku mau aku bisa bertemu dia hari ini di tempat yang selalu kita kunjungi, tempat favorit kita yaitu di taman kota tempat kita tinggal.
“Akkkkkkk… kenapa aku tidak bisa mengirimkan satu SMS pun padanya…”
“Dasar gengsi, selalu saja membuat orang susah.. Tuhan, tolong biarkan gengsi ini pergi bersama rasa bersalahku…”
“Hmmm.. tapi, mengapa Fey juga tidak pernah menghubungiku ya ? Apa dia juga terkena demam gengsi sama sepertiku ?”. terbesit sebuah tanya dalam diriku.
“Aku sungguh rindu kamu Fey…. sangat Rindu malah… tapi sayang gengsi ini jadi penghalang kita…”
“Haruskah aku menghubunginya sekarang ? Aku sudah sangat rindu ingin bertemu dengannya.. Tapi…….”
“Akkkkk.. mengapa tangan ini kaku saat aku ingin mengirimkan SMS padamu, bahkan hanya untuk mengirimkan kata HAI saja aku tak mampu…”
“Sudahlah mungkin, ini sudah saatnya aku menghubunginya lagi, aku sudah tak sanggup untuk berpisah dengannya lagi, aku harus menghubunginya sekarang.. Harussss…”
Seketika itu pula aku mencari nomor Fey dalam Handphone yang sedari tadi sudah ada di genggamanku. Nada dering favorit kita berbunyi dengan indahnya, lagu “Lebih Indah” dari Adera.
“Dan kau hadir.. merubah segalanya, menjadi lebih indah.. Kau bawa cintaku setinggi angkasa.. Membuat ku..”
“Klik…”. suara telpon diangkat dan hati ini semakin deg – degan.
“Halo.. Fey.. Gimana kabarnya ?”. Ucapku dengan sedikit rasa gugup, sama seperti saat aku berkenalan pertama kali dengannya. Tapi sayang jawaban yang aku dengar setelah itu menjadi titik balik penyesalanku yang lebih dari perasaan yang tadi.
“Maaf kak.. ini adeknya kak Fey..”. Ucapnya dan ternyata dia adalah adek Fey, yaitu si Melly.
“Oh adik Melly, kalau boleh tahu kak Fey-nya kemana ya ?”. Tanyaku dengan penuh rasa penasaran, sebab tak seperti biasanya Fey meninggalkan HP-nya seperti ini.
“Nggg… Anu Kak.. itu kak Fey sekarang lagi dirawat di rumah sakit..”. Dan ternyata firasatku benar, ada yang terjadi dengan Fey. Aku merasa terpukul saat aku mendengar kata itu, aku merasa sangat bersalah kepada Fey, karena tidak bisa berada di sampingnya saat dia sakit.
“Dirawat di rumah sakit mana dik ? Dia sakit apa ? Sudah berapa lama kak Fey dirawat dik ?”. Membabi buta aku bertanya pada Melly, karena memang aku sangat mengkhawatirkannya bahkan aku juga tak ingin kehilangannya.
“Dia dirawat di RS. Syaiful Anwar kak… Kak Fey menderita penyakit Kanker Melanoma aku gak tahu juga kak tapi itu yang aku dengar dari Mama.. Dan Kak Fey udah dirawat selama 2 minggu kak..” 
Bayanganku kembali menyusuri setiap inci cerita masa lalu saat aku mulai memutuskan hubungan itu, aku masih ingat saat senyumnya yang manis itu hadir dalam setiap kehidupanku, bahkan saat pagi itu. Tapi memang ada yang sedikit beda saat itu, senyumnya tetap manis tapi tubuh dia seakan pucat pasi, bahkan bibirnya pun seperti kering. Aku juga ingat saat itu aku sempat bertanya.
“Kamu gak apa – apa kan Fey ?”
“Aku gak apa – apa koq mas.. mas tenang saja aku masih sehat koq, lihat saja Aku masih bisa tersenyum sama mas..” Sembari dia kembali memulai senyumnya yang manis itu.
“Iya, senyum kamu tetap manis koq.. sama seperti es krim, manis dan bikin ketagihan” Aku membalas senyumnya dengan sedikit rayuan.
“Ah.. Mas bisa aja..”

Tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia ternyata menderita penyakit yang begitu ganas yaitu “Kanker Melanoma”. Aku pernah baca di salah satu situs di Internet bahwa Kanker Melanoma itu adalah sebuah bentuk kanker yang terbentuk di dalam melanosit (sel yang membuat pigmen melamin). Awalnya mungkin dimulai di dalam mol (melanoma kulit), tetapi juga bisa dimulai dari jaringan pigmen lain, seperti mata atau di dalam usus. Hatiku makin kencang berdetak, aku tak tahu harus meminta maaf seperti apa kepada Fey, karena aku sudah menjadi Kekasih yang bodoh, yang sudah mengacuhkannya saat dia butuh bantuan dan semangat.

“Iya dik Melly, terima kasih ya atas informasinya…Bye”.

“Bye.. Kak..”

“Klik”. Bunyi Handphone dimatikan.

Seketika itu pula aku langsung putuskan untuk segera menyusul Fey ke rumah sakit. Aku ambil jaketku dan juga dompetku yang tergeletak di Meja belajarku. Dan segera kutancapkan sepeda motorku menuju RS. Syaiful Anwar.

***
Tak sampai 20 menit, aku pun sudah tiba di tempat parkir RS. Syaiful Anwar. Segera kulangkahkan kaki menuju lobi rumah sakit.
“Mbak, pasien atas nama Felin Aira Silvinia dirawat dimana ya ?”. Tanyaku pada petugas rumah sakit itu.
“Sebentar mas ya…. Emmm.. Di ruang 205 lantai 2 mas..”. Jawabnya.
“Iya mbak, terima kasih ya..”
“Iya mas, sama – sama…”
Aku segera menuju ke ruangan yang sudah diberitahukan oleh mbak petugas rumah sakit itu. Sesampainya disana ternyata adik Fey yaitu si Melly sudah tiba lebih dahulu disana bersama Papa dan Mamanya si Fey.
“Pagi.. Om, Tante..” sapaku pada orang tua Fey.
“Pagi Nak Dicky.. mau menjenguk Fey ya ?”. Bapak Fey membalas dengan ramahnya. Orang tua Fey memang ramah kepada semua orang, bahkan aku ketika bermain ke rumah Fey, suka merasa berada di rumah sendiri.

“Iya Om… Maafin saya karena baru tahu kabar ini sekarang, maafkan kesalahan saya ini, saya juga tidak tahu kalau semuanya akan seperti ini..” Ucapku lirih dengan kepala menunduk.

“Gak apa – apa Nak Dicky, Fey.. udah cerita semua tentang hubungan kalian koq.. dan Om ngerti, kan Om juga pernah muda.” Beliau berkata sembari tersenyum kepadaku, membuat hati ini sedikit merasa tenang.

“Kalau gitu boleh aku masuk Om ?”

“Oh iya Nak, silahkan.. dia juga sudah rindu koq sama kamu.” Ucapnya sambil melihat aku yang tersipu saat Orang tua Fey menggoda aku.

“Ehh… I..Iya.. Om..” Balasku sambil tersenyum simpul.

“Om.. mau keluar dulu ya.. mau beli sarapan dulu..bye Nak Dicky..” Balas Beliau.

“Baik Om.. biar aku yang akan menjaga Fey di sini..” Ucapku sembari beliau menganggukkan kepalanya.

Kemudian aku meninggalkan obrolan ringan pagi hari itu dan langsung masuk ke kamar Fey yang sedang dirawat dan kulihat Fey sedang terbaring lemas disana dengan selang infus yang menancap di tangannya. Miris aku melihatnya, kekasih yang selama ini selalu tersenyum untukku sekarang dia hanya diam membisu di tempat tidurnya. Hampir tumpah air mataku saat itu melihat keadaan yang seperti itu namun segera kuseka, aku tidak ingin terlihat terlalu bersedih di hadapannya, karena darinya aku belajar tersenyum untuk menghadapi semua masalah. Aku masih teringat kata – kata dia saat aku mengalami masalah di hidupku.

Memang tersenyum tidak akan membuatnya selesai, tapi setidaknya itu adalah langkah awal untuk mulai menyelesaikannya.

Aku juga masih ingat saat dia tersenyum sendu ke arahku sambil mengucapkan kata – kata ajaib tersebut, begitu terenyuh hatiku saat dia mengatakannya. Dengan segera aku menghampiri tempat tidurnya, tubuhnya terlihat lemah sekali tapi untungnya dia masih tetap terjaga. Dia menyambutku dengan senyum simpulnya yang khas saat aku menghampirinya.

Senyum inilah yang membuat aku rindu selama ini…“. Gumamku dalam hati.

“Hai.. Fey..”. Ucapku membuka pembicaraan.

“Hai juga mas..”. Dia kembali tersenyum padaku.

Kemudian aku langsung menggenggam tangan kananya dengan kedua tanganku, seakan aku tak mau lagi berpisah dengannya. Dan memang aku tak ingin kehilangannya.

“Maafkan aku Fey… aku sudah menjadi seorang yang bodoh yang membiarkan kekasihnya berjuang sendiri selama dua minggu ini, maafkan aku yang sudah mengacuhkanmu.. Maafkan aku Fey…Aku,…”. Seketika itu juga Fey langsung memotong pembicaraanku.

“Sudahlah mas.. aku ngerti koq.. Mas Tak usah bersedih lagi ya.. Kan aku masih disini sekarang..” Ujarnya.

“Iya Fey, aku tahu tapi aku benar – benar merasa bersalah atas semua ini… Karena gengsi ini kamu harus berjuang sendirian melawan penyakit ini.. Tapi selama dua minggu ini jujur aku sangat – sangat merindukanmu.”

Dia kembali tersenyum dan berkata. “Aku juga rindu kamu mas…Aku bertahan sampai saat ini bukan karena kenyamanan yang aku rasa, tapi juga karena keyakinan dalam hati aku.”

“Terima kasih sayang… Ternyata rinduku ini tak bertepuk sebelah tangan.. dan aku juga yakin kalau kamu adalah bidadari terindah yang akan selalu ku miliki dalam hati ini.. Terima kasih ya..” Aku pun membalas senyum manisnya itu.

Semenjak itu kesehatan Fey berangsur pulih, dan aku selalu menemaninya setiap hari, setiap saat. Aku tak ingin lagi berpisah dengannya. Aku sungguh sangat menyayanginya, dia adalah kado terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.

Dua minggu lebih 5 hari, akhirnya Fey dipersilahkan dokter untuk kembali ke rumahnya. Untunglah penyakit Fey tidak terlalu parah kata dokter, dia masih bisa diselamatkan dengan pengobatan – pengobatan tradisional  yang rutin menurut dokter itu sembari menasihati orang tua Fey yang memang sudah bersiap – siap untuk membawa Fey kembali ke rumah.

Gengsi dan Rindu keduanya adalah rasa yang selalu menggerogoti setiap insan. Mereka berdua berjalan tapi tak baik jika semua itu disatukan. Gengsi itu membuat rindu ini tidak menyatu lagi, membuat jarak yang sesungguhnya dekat menjadi jauh, jauh sekali. Gengsi harusnya tak lagi merasuki setiap rindu yang ada, karena membuat malapetaka. Sekarang aku lebih mempercayai rinduku daripada Gengsi yang sudah menggerogoti semangat hidupku selama dua minggu lalu. Dan aku mulai mendahulukan rindu daripada gengsi yang terus menyapa.

Terima kasih wahai bidadariku atas semua senyum rindu yang telah engkau buat, sehingga aku sekarang tetap berdiri disini untukmu, untuk menjalani rindu ini bersama – sama menuju asa masa depan yang telah menunggu kita. Terima Kasih Fey.

————————————————————————————————————

PS : Ini cerpen pertamaku, maaf bila masih tak beraturan alurnya, aku juga masih belajar. Selamat membaca ya.

Sumber Gambar : http://andriedisiterbatas.blogspot.com/

4 thoughts on “Gengsi Dan Rindu Ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *