[Cerpen] Menggapai Cahaya

Sumber : Punchstok.com 

“Aku terpejam dalam lamunan malam, namun cahaya itu selalu ada entah dalam mimpi ataupun kenyataan”.

“Dinda, Kaukah itu ?”

“Iya Jef, ini aku Dinda…”

“Kemana saja kamu selama ini, aku mencarimu selama ini..” Ucapku dengan mimik khawatir padanya.

“Aku tidak kemana – mana koq, aku hanya sedang menunggumu disini” dia tersenyum lalu kemudian pergi dan hilang entah kemana.

***

1 Tahun Yang Lalu

Pagi yang cerah saat aku pun terbangun dengan posisi mata yang masih menahan ngantuk, namun mentari pagi yang indah ini tak akan pernah aku lewatkan. Kemudian aku pun bergegas menuju jendela kamarku untuk melihat pemandangan alam yang indah ini, pemandangan yang tercipta karena Kuasa Yang Maha Kuasa. Begitulah setiap hari yang aku lakukan kala aku terbangun dari setiap mimpi malamku.

Hari itu, entah mengapa aku seperti tidak ingin melupakan tanggal yang tertera pada kalenderku saat itu, tepat pada tanggal 28 Februari 2012. Hari itu aku sedang mempersiapkan diri untuk menghadiri janji yang sudah aku buat pada kekasihku yang bernama Dinda. Aku sudah berjanji untuk mengajaknya jalan – jalan ke suatu tempat yang indah, seindah taman nirwana yang membuncahkan keindahaan semesta. Aku sudah merencanakan rencanaku ini sejak 1 bulan lalu, aku sudah mempersiapkan segalanya hanya untuk dirinya, kekasih yang sangat kucintai selama ini. Hari itu adalah hari dimana aku ingin melamarnya sebagai seorang kekasih yang akan menempati tempat abadi di dalam altar kehidupanku untuk selamanya.

“Ahhh.. Aku sudah tidak sabar untuk hari ini, tapi aku juga masih deg – degan untuk melakukannya. Tuhan beri aku kekuatan untuk tugas mulia ini”. Ucapku dalam hati.

“Wah.. sudah pukul 06.30, sepertinya aku harus bergegas untuk segera ke kantor nih sekaligus nanti ke Cafe D’Canoe untuk mempersiapkan segalanya.” Ucapku sembari mengingatkan diri sendiri.

Kemudian selepas mandi aku langsung bergegas membenahi diri dan sekaligus sarapan bersama keluarga di bawah. Aku juga sengaja tidak memberitahu kepada keluargaku tentang rencana ini, jadi ketika aku sarapan pagi bersama keluarga tidak ada perbincangan tentang Lamaran ini. Sarapan pagi itu aku lewati seperti hari – hari biasa sebelumnya. Bi’ Sumi pembantuku sudah mempersiapkan sarapan kali ini sejak lepas subuh tadi. Ya Bi’ Sumi adalah pembantu yang memang rajin sekali, kami sekeluarga sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, bahkan ketika kami liburan tak jarang Bi’ Sumi kami ajak untuk ikut bersama, tapi beliau sering kali menolaknya katanya dia gak enak sama juragan. Yah, namanya juga pembantu suka gitu, malu – malu kucing gitulah. Selepas sarapan pagi aku pun pamit kepada kedua orang tuaku untuk berangkat kerja, meskipun sudah sebesar ini aku tidak akan malu untuk melakukan ritual pagi yang sakral itu, karena menurutku itu adalah salah satu bentuk dari doa kedua orang tua.

Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 06.50, aku pun segera bergegas karena pagi ini ada janji pada pemilik Cafe D’Canoe untuk mempersiapkan segalanya. Cafe D’Canoe adalah Cafe favoritku sebelum ada Dinda dalam hidupku dan ketika Dinda sudah memasuki kehidupanku Cafe ini menjadi Cafe favorit kita berdua. Cafe ini memang tidak sebesar Cafe – Cafe lain pada umumnya, namun penyajian dan juga interiornya sangat memuaskan bagi para pengunjung yang sudah pernah kesana. Mulai dari pelayanannya yang ramah dan tanggap pada sesuatu, Interior yang bergaya seperti nuansa alami seperti ala zaman dulu namun juga tidak menghilangkan kesan modern yang ada di dalamnya, jadi suasananya memang sangat mendukung sekali untuk pasangan muda – mudi yang ingin menghabiskan waktu berduanya di sana, dengan lampu temaram yang menerangi di setiap sudut Cafe itu berupa lampion yang berwarna kecoklatan.

Segera kupacu mobilku melewati hiruk – pikuk jalanan ibu kota yang sangat ramai sekali. Jam menunjukkan pukul 07.25 WIB, dan untunglah aku tiba tepat waktu. Kebetulan tempatnya pun tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku jadi hanya dalam waktu sekitar setengah jam lebih aku bisa tiba di sana. Kemudian aku turun dan segera masuk ke dalam cafe itu dan langsung menemui manager café tersebut, kebetulan pemilik atau manager café D’Canoe ini adalah teman lamaku di SMA jadi akses untuk mendapatkan izin untuk menggunakan tempatnya tidaklah terlalu sulit.

“Selamat Pagi Kawan…” Sapaku.

“Pagi Juga Kawan…”.

“Bagaimana tentang rencanaku kemarin itu ?”

“Tenang kawan, semuanya sudah diatur koq..” Ucapnya sembari dia tersenyum kepadaku, menunjukkan rasa senang dia karena melihat temannya sendiri yaitu aku akan melakukan sesuatu yang berarti.

Setelah berbincang – bincang dengannya beberapa saat kemudian aku lanjutkan ke Kantor tempatku bekerja karena jam sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB dan aku juga harus tiba disana sekitar pukul 08.30 WIB. Segera kulajukan mobilku menuju tempatku bekerja, tapi selama dalam perjalanan aku masih saja kepikiran tentang rencanaku nanti, apakah akan berhasil atau tidak ? Apakah berantakan atau seperti apa ?. “Ahhh.. Sudahlah, aku hanya bisa bekerja semaksimal yang aku bisa, dan biarkan Tuhan yang menentukan semuanya nanti”. Perasaan dan hatiku terus bergemuruh terngiang sebuah rencana itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 16.25 WIB, dan aku masih memikirkan masalah itu, masalah lamaran yang membuat peluh ini ikut gemetar mengikuti kata hati yang sedari tadi mengoceh tanpa sadar. Aku segera menghubungi Dinda pacarku agar bersiap – siap terlebih dahulu sebelum aku jemput. Jarak kantor dan rumah Dinda cukup jauh dan memakan waktu yang lumayan lama sekitar 1 Jam-an, itupun kalau tidak macet, tapi kalau macet biasanya sekitar 1 s/d 1,5 jam-an. Pukul 5 sore pas, aku segera keluar kantor dan melajukan mobil kesayanganku ini menuju rumah kekasih pujaanku. Tepat jam 7.15 aku tiba di depan rumahnya, aku segera turun dari mobil dan masuk menuju rumahnya sembari pamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengajak anak semata wayangnya keluar sebentar. Setelah mendapat izin kami pun segera menuju mobil dan melanjutkan perjalanan ke café. Dalam mobil kami bersikap seperti biasanya, yaitu mengobrol tentang keseharian kita dan juga hal – hal lainnya. Karena memang kekasihku Dinda itu tidak kuberitahu tentang rencananku untuk melamarnya di sana, jadi tidak ada obrolan yang menjurus tentang hal itu. Setibanya di tempat itu, kami kemudian memilih tempat yang memang sudah aku atur sebelumnya. Tempat itu persis di tengah – tengah dari Café itu dan berada tepat di bawah sebuah lampu besar yang menerangi dengan temaramnya. Alunan musik merdu mulai menyeruak dalam sukma, mengisi ruang cinta yang ada pada kami berdua. Malam itu adalah malam yang tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. 30 menit kami lalui dengan canda tawa seperti biasa dengan obrolan ringan di dalamnya, sembari menunggu pesanan yang sudah kami pesan tadi. Kemudian hidangan makan malam kami datang dan kami mulai menyantapnya. “Ahhhh… aku masih deg –degan, bagaimana ini..??”. Sementara hatiku masih meragu, tapi waktu yang kutunggu tetap berjalan dan mulai mendekat.

“Yank, aku mau ke belakang dulu ya…’

“Iya, yank jangan lama – lama nanti kesambet setan..” ucap dia sembari mengejekku, dia memang seperti itu ceria dan bikin gemesin.

“Iya, tenang aja.. nanti kalau aku sudah ketemu setannya aku pacarin deh..” aku membalas ejekannya.

“Iya.. Iya.. udah sana buruan nanti tumpah disini kan malu..” Ucap dia sambil tersenyum kecil.

“Okee…”. Kemudian aku meninggalkan meja makan dan ketika aku sudah berada di bibir pintu masuk toilet. Suara musik di atas panggung berubah menjadi lagu dari Bruno Mars yang berjudul “Marry You” dan di meja pengunjung yang lain pun demikian terdapat kotak musik di bawahnya yang mulai bersuara saat lagu di panggung mulai berubah.

It’s a beautiful night,
We’re looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

Kemudian aku berjalan secara perlahan kembali menuju meja dimana kekasihku sedang bingung dengan ini semua karena seluruh ruangan dipenuhi oleh suara music dari Bruno Mars tadi. Aku mulai dekat dengan jarak dia sedang bingung antara menikmati ataukah harus terkejut dengan musik yang didengar ini. Dia terkejut saat aku sudah dekat dan berjarak sekitar 5m dari dia.

“Will you marry me and become my princess forever ?”. Ucapku berlutut sembari menyodorkan sebuah cincin emas yang masih terlihat rapi dalam kotak kecil berwarna merah itu.

Don’t say no, no, no, no-no;
Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
And we’ll go, go, go, go-go.
If you’re ready, like I’m ready.

Dia hanya tertegun melihatku bertingkah seromantis itu, karena biasanya aku adalah seorang yang tidak terlalu banyak bicara dihadapannya atau bisa dibilang “Kalem” seperti orang jawa bilang. Kemudian matanya menatap tajam padaku.

“Yee…..eeessss, My… Prince…” Ucapnya terbata – terbata dan kemudian matanya mulai berkaca – kaca, lalu meneteskan air mata.

I’ll go get a ring let the choir bells sing like oooh,
So what you wanna do?
Let’s just run girl.

Kemudian aku menyeka air matanya dan melanjutkan memasangkan cincin itu pada jari manisnya, ditemani tepukan riuh dari para pengunjung yang tidak menyangka akan ada kejadian langka seperti itu. Dia mulai meneteskan air mata lebih banyak lagi, aku menyekanya dan membiarkan kepalanya tersandar pada pundakku sementara lagu “Marry You” tetap bersenandung.

Cause it’s a beautiful night,
We’re looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

Hhhhhh… Aku menarik napas. Aku lega karena dia menerima lamaranku ini. Perasaanku saat ini sudah seperti nirwana yang menyinarkan semburat sinar jingga dengan indahnya di langit, Indah bak permata yang menyilaukan mata. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia juga sedari tadi tidak berkata apa – apa dia hanya terus menyandarkan kepalanya pada pundak ketabahan yang menemani dia selama ini. Aku hanya berharap semoga surprise yang aku buat ini akan dikenang selamanya dalam hidupnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB dan itu artinya aku harus mengantarkan dia kembali menuju rumahnya. Kami segera bergegas kembali ke mobil dan membayar pesanan kami tadi, tak lupa pula aku ucapkan terima kasih kepada teman lamaku itu karena sudah membantu dalam lancarnya acara lamaran ini. Mobil kulajukan pelan – pelan meskipun jalanan sudah sedikit lengang malam ini, aku masih memandangi wajahnya yang sembab karena sedari tadi masih terharu karena surprise yang aku berikan padanya.

“Ihh.. Kamu nakal ya.. sampai buat aku nangis gini..” Ucapnya sembari tersenyum simpul.

Aku membalas senyumnya. “Yah.. gak apa – apa lah, kan sekali – sekali buat kamu nangis boleh kan ? Masa’ harus tertawa terus…. Hehehe…”

Kemudian mencubit pahaku dengan kerasnya. “Aww…. Sakit yank, jangan diganggu nih aku lagi nyetir”

“Biarin.. Kamu nakal sih..” Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.

Beberapa menit kemudian aku lihat dia memegang dadanya sembari menundukkan kepala.

“Kamu gak apa – apa yank ?” Tanyaku penasaran.

“Aku gak apa – apa koq, kamu terusin aja nyetirnya ya.. “ Jawabnya.

Dan beberapa saat kemudian dia mulai batuk terus – menerus, dan semakin parah. Aku bertanya padanya tapi dia hanya bisa batuk dan batuk saja. Sontak saja aku kaget dan kemudian aku memutuskan untuk langsung membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku kemudian menghubungi nomor rumah dan memberitahu orang tua Dinda bahwa dia sedang berada di rumah sakit sekarang.

Malam itu adalah malam yang paling membahagiakan bagiku sekaligus malam yang menyedihkan bagiku, karena menurut dokter Dinda ternyata terkena penyakit Kanker Paru – paru dan parahnya penyakit ini sudah sejak lama di derita oleh Dinda dan aku baru mengetahuinya sekarang. Dinda ternyata menderita Kanker Paru – paru jenis Adenokarsinoma: jenis ini berkembang dari sel-sel yang memproduksi lendir pada permukaan saluran udara, begitu kata dokter. Lebih buruknya lagi Dinda menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit itu pada malam itu juga dan membuat semuanya semakin terasa lengkap, bercampur semua rasa bahagia dan juga kecewa yang kian lama kian membesar. Perasaanku hancur berkeping – keping pada malam itu, aku seperti orang lemas yang hanya bisa duduk dan termenung meratapi nasib yang menimpaku saat itu.

***

“Kemana saja kamu selama ini, aku mencarimu selama ini..” Ucapku dengan mimik khawatir padanya.

“Aku tidak kemana – mana koq, aku hanya sedang menunggumu disini” dia tersenyum lalu kemudian pergi dan hilang entah kemana.

Keadaan di sekitar berubah menjadi putih semua ketika sebelumnya ada taman nirwana yang indah sekali menemani kekasihku yang sudah lama pergi itu. Kemudian aku tersadar dari mimpi indah itu. Dan kulihat sekarang masih sekitar pukul 05.30 WIB. Seperti biasa aku pun bergegas menuju jendela untuk melihat pemandangan yang luar biasa setiap paginya. Dan tak sengaja ketika aku berjalan mendekati jendela aku melihat Kalendar yang terpampang di dinding kamarku yaitu hari ini tepat pada tanggal 28 Februari 2013, satu tahun dari kepergian seorang Dinda dari hidupku. Pikiranku mulai kembali ke masa – masa indah bersama Dinda 1 tahun lalu sampai pada masa aku melamarnya. Oh.. sungguh indah semua, tapi itu hanyalah kenangan masa lalu dan sekarang aku sudah mempunyai kekasih baru yang juga setia menemaniku sama seperti Dinda yang dulu. Begitulah kehidupan saat kita mulai melihat cahaya dan ingin menggapainya kadang cahaya itu redup sebelum waktunya dan keadaan sekitar mulai gelap gulita, namun Tuhan tidaklah buta, DIA sedang mempersiapkan cahaya baru bagi setiap hambanya yang tak pernah menyerah pada kehidupan dan selalu ingin menggapai cahaya keindahan pada altarnya.

———————————————————————————————————–

PS : Cerpen ini aku dedikasikan kepada Komunitas Kancut Keblenger yang saat ini sedang berulang tahun yang ke- 2 tepat pada tanggal 28 Februari 2013. Semoga makin kece dan cetar membahana badai ya. From @mamanism For @kancutkeblenger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *