Hidupku adalah Mutiaraku

Mereka yang hidup di luar sana pasti sedang berkutat dengan kehidupannya masing – masing, ada yang menjadi seorang pengemis, pemulung, tukang sol bahkan sampai ke pejabat sekalipun. Profesi itu adalah pilihan masing – masing. Sebuah pilihan yang akan menentukan masa depan mereka, karena di tangan mereka sendirilah masa depan akan tercipta.

Bicara tentang pilihan ada sebuah kisah menarik mengenai sebuah pilihan. Kisah tentang Kerang rebus dan kerang Mutiara. Kisah ini saya dengar dan saya lihat di serial ramadhan di sebuah stasiun TV. Pada stasiun TV tersebut kebetulan sedang membahas mengenai “memuliakan orang tua” dan mereka mendatangkan dua orang pemateri atau bintang tamu yaitu Ustadz @AnwarSani_MOZA dan juga Inspirator @JamilAzzaini.

Dalam Stasiun TV tersebut dikisahkan tentang seorang @JamilAzzaini yang ternyata beliau dulunya adalah orang miskin yang selalu dihina karena kemiskinannya bahkan pernah diludahi. Beliau tinggal di daerah Lampung, di dalam hutan bahkan jarak terdekat antar rumahnya berjarak sekitar 2km. “Untuk memenuhi kegiatan sehari – hari saya sering memancing ikan di rawa kecil dekat tempat tinggal kami” Ujarnya. Kemudian pada suatu hari beliau didatangi oleh bapaknya ketika memancing, dan bapak beliau berkata “Mil, bapak punya cerita tentang kerang mutiara dan kerang rebus, sambil mancing kamu dengarkan ya,” ujar bapak dari seorang @JamilAzzaini .

“Ketika kerang belia mencari makan dibukalah penutup badannya, ketika itu pasir masuk ke dalam tubuh kerang belia itu. Sang kerang menangis, “Bunda sakit bunda…sakit…ada pasir masuk ke dalam tubuhku.” Sang Ibu kerang pun menjawab, “Sabarlah anakku, jangan kau rasakan sakit itu, bila perlu berikan kebaikan kepada sang pasir yang telah menyakitimu.” beliau memulai ceritanya.

Dan kerang belia itu pun menangis, namun ia gunakan air matanya untuk membungkus pasir tersebut. Lama – kelamaan sakit itu pun hilang karena air mata tadi. Ajaibnya pasir yang tadinya membuat dirinya sakit sekarang justru berubah menjadi sebuah butiran yang cantik, pasir yang terbungkus oleh air mata tadi telah berubah menjadi mutiara.

Kemudian beliau melanjutkan ceritanya, ketika tiba panen kerang dan dijual, kerang yang sebelumnya tak pernah merasakan sakitnya pasir yang masuk ke dalam tubuhnya dijadikan kerang rebus. Dan kerang yang tadinya sudah merasakan sakit ketika pasir masuk ke dalam tubuhnya harga jualnya lebih tinggi 10x lipat dari harga kerang rebus tadi, karena kerang tersebut telah berubah menjadi mutiara.

Beliau melanjutkan cerita ayahnya. “Kalau kamu tidak pernah mendapat cobaan dan merasakan rasa sakit, maka kamu akan menjadi kerang rebus atau orang murahan. Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberikan manfaat kepada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi mutiara.”

“Anakku…, kerang rebus dijual obral di pinggir jalan sementara mutiara dijual mahal, diletakkan di tempat terhormat dan dikenakan oleh orang-orang yang terhormat. Hidup adalah pilihan wahai anakku… kamu bisa memilih hendak menjadi kerang mutiara atau kerang rebus, semua terserah kamu.” Ayah saya kemudian bertanya, “Kamu memilih menjadi apa, mil?” Maka, segera saya jawab, “Saya ingin menjadi kerang mutiara pak!”

Dari semua cerita di atas kita dapat menarik hikmah dari ini semua bahwasanya kita tidak akan tambah sukses dan tinggi jika kita tidak pernah merasakan pahitnya kehidupan, asam garam sebuah kehidupan. Kita akan menjadi orang terpandang dan menjadi orang besar ketika kita berani mengambil resiko baik itu pahit dan manisnya kehidupan. Semoga artikel ini bisa menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua agar selalu berusaha menjadi “Mutiara” bagi kehidupan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *