fbpx

Republik Kompasiana Vs Republik Twitter

1343238140326424207
republik kompasiana vs republik twitter
Baru kemarin perfilman indonesia membuat suatu film yang menurut saya pribadi menarik untuk dilihat dan dipahami isinya, film tersebut adalah “Republik Twitter”. Film yang disutradarai oleh Kuntz Agus dan dibintangi oleh Laura basuki serta Abimana Aryasatya ini berkisah tentang fenomena dan kejadian unik yang terjadi di dalam sebuah jejaring sosial yang sudah tidak asing lagi di mata penduduk Indonesia, apalagi para kaum muda – mudi. Mereka biasanya selalu sibuk dengan jejaring sosial 140 karakter ini, mengutak-atik kata demi kata demi mencapai kepopuleran, harga diri, dsb.

Dalam film tersebut dikisahkan tentang seorang pemuda bernama Sukmo yang dibintangi oleh Abimana Aryasatya yang ambisius, lucu, dan cerdas. Kesehariannya adalah selalu berada di depan komputer (Computer Freak), terutama di jejaring sosial seperti Twitter, sampai – sampai dia pun jatuh cinta dengan seorang cewek bernama Hanum yang dibintangi oleh Laura Basuki itupun di Twitter juga.
Twitter adalah jejaring sosial yang banyak digandrungi anak muda jaman sekarang mulai dari kalangan artis sampai yang punya niat jadi artis. Dari kalangan atas sampai kalangan yang tak berkalangan pun tahu tentang jejaring sosial ini.
Di Republik twitter fenomena yang terjadi adalah tak selamanya apa yang ada di dunia maya itu seperti apa yang ada di dunia nyata dan sering kali terjadi pada sosok – sosok yang ada di film tersebut, beda lagi denganRepublik Kompasiana.
Menurut pandanganku setelah baru beberapa bulan berada di Kompasiana ini, banyak hal yang sudah aku alami antara lain ; membuat hidupku semakin bergairah dengan cara menimbulkan ide -ide gila di benakku, berinteraksi dari semua kalangan kompasianer yang ada di situs ini yang tentunya merupakan penulis – penulis kreatif dan inovatif.
Hubungannya dengan Republik Kompasiana ini adalah, dalam situs ini menurutku sudah bisa dikatakan menjadi sebuah republik dunia maya yaitu Republik Kompasiana. Republik ini adalah sebuah contoh cerminan anak – anak bangsa yang cerdas, kritis dan kreatif. Dibuktikan dengan banyaknya penulis – penulis aktif dan kreatif yang sudah berkecimpung dalam dunia jurnalistik Republik Kompasiana ini. Banyaknya para puitis yang terlahir di dalam republik ini, banyaknya para pengamat hukum, pengamat olahraga, pendidikan, bahkan mungkin sampai pengamat orang yang teraniaya pun ada di sini.
Satu hal yang aku salut dari republik ini adalah “Interaksi Komunikasi” yang ada di dalamnya. Mengapa ? Karena dari pengalaman pribadi yang saya rasakan, interaksi yang berada dalam republik ini berbeda sekali dengan interaksi yang berada di Republik Twitter. Di Republik Twitter mungkin kalau kita tidak banyak followers maka status di Timeline kita tidak akan ada banyak yang melirik, meskipun kadang mereka membuat suatu status yang cerdas. Bahkan para selebritis di negara kita ini maupun di negara lain jarang yang mau berinteraksi dengan kita – kita yang followernya masih sedikit.
Lain hal ketika berada di Republik Kompasiana ini, atmosfer yang berbeda yang ditimbulkan dari interaksi komunikasi di dalamnya membuat para kompasianer selalu betah untuk berlama – lama di depan laptop/komputernya hanya untuk menulis dan menunggu tentang ide -ide kreatif yang bermunculan yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Karena ketika sudah berada dalam Republik ini “Menulis” bukan lagi sebuah hobi menurutku tapi sebuah keharusan untuk bisa menjadi manusia – manusia yang aktif dan kreatif. Bukan masalah popularitas yang didapat atau juga dari hadiah yang menggiurkan yang biasanya selalu menghiasi dunia maya dengan lomba – lombanya itu. Tapi masalah kreatifitas yang utama bagaimana kita bisa menciptakan suatu senjata baru yaitu melewati sebuah “Tulisan”.
Dalam Republik ini (Republik Kompasiana) tidak ada lagi yang namanya perbedaan kasta seperti halnya yang ada dalam Republik Twitter. Semuanya berbaur menjadi satu, semuanya merasa mereka berada di posisi yang sama yaitu sebagai jurnalis. Begitu pula dengan Adminnya yang kalau boleh saya sebut sebagai “Presiden” dalam republik ini, sang presiden pun tidak canggung untuk selalu berinteraksi dengan para jurnalis yang ada bahkan mendapa kritikan dan saran pun diterima dengan senang hati. Kalau saja para pemerintah di Indonesia ini bisa untuk berkecimpung dalam republik ini bahkan mengerti dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh masyarakat yang ada di republik ini, mungkin Negara indonesia kita ini akan berkembang lebih pesat dan lebih maju lagi. Karena apa yang ditampilkan dalam republik ini selalu Up to date mengenai berita – berita yang ada di seluruh negeri sampai ke pelosok desa pun ada di sini.
Di Republik Twitter yang terjadi adalah Tak selamanya apa yang ada di dunia maya terjadi juga di dunia nyata, lain hal dengan Republik Kompasiana. Di Republik Kompasiana hal yang nyata yang ada di sekeliling kita akan menjadi suatu hal maya yang nyata.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *